Selasa, 14 Desember 2010

BERHIAS DARI ILMU SEBELUM LEMBAYUNG MERONA

Oleh 
Agus Ali Imron Al Akhyar



Tataplah dirimu sebelum menantang sang waktu
ingatlah!!! ilmu hanya bisa dicapai dengan enam faktor;
Pertama kecerdasan; Kedua kemauan; Ketiga keuletan;
Keempat tersedianya biaya; Kelima petunjuk guru dan Keenam waktu yang lama

ILMU itu sangat penting sekali bagi kehidupan manusia, ibarat hidup tanpa ilmu laksanakan berjalan tanpa mata (bukan buta). Meskipun mata kita bisa melihat, namun sudah tahu ada lobang malah diinjak, tapi kalau kita mempunyai ilmu maka mata ini akan melihat dan diproses oleh otak untuk berpikir. Bagi siswa-siswi yang memang niat menuntut ilmu kepada guru, renungilah untaian kata-kata di atas itu.

Rasa hormat kepada guru, merupakan cerminan akhlak yang baik, hal itu merupakan salah satu syarat kita menerima ilmu dari Beliau. Akhlak sopan, santun, menghormati dan juga tawaduq dalam menuntut ilmu harus kita tanamkan. Kata “menuntut” dalam pencarian ilmu merupakan bahasa yang kurang tepat, sebab kita mencari ilmu pada guru. Paling tidak yang tepat adalah menerima ilmu dari guru. Padahal guru yang baik adalah dengan ikhlas mentransfer ilmu pada muridnya tanpa ada maksud tertentu.

Ilmu dan akhlak, merupakan kesatuan pondasi utama ketika seorang murid menerima ilmu dari gurunya. Ilmu itu tidak bisa dipegang, ilmu itu bisa kita rasakan hasilnya selama kita berproses. Akhlak murid yang baik kepada gurunya merupakan salah satu jalan ilmu itu bisa kita terima dengan indah, damai, tenang dan tanpa beban.

Gubahan syair dikemukakan oleh Muhammad Ibnul Hasan bin Abdullah yang dalam kitab Ta'lim Muta'allim, berbunyi;

Tuntutlah ilmu, sungguh dia 'kan menghiasi dirimu
Dia perlebihan, dan pertanda segala pujaan
Jadilah dirimu, ditiap hari tumbuh berilmu
Ayo renangkan, ke tengah samodera artian
Ia bendera penunjuk, ke jalan petunjuk
Ia benteng penyelamat, dari segala keparat
Faqih Waro' satu, sungguh-sungguh
Lebih berat syetan menganggu, ketimbang 'abid seribu

Kita yakin bahwa ilmu itu akan terus menghiasi kita, kalau kita memang benar-benar niat tulus untuk menerima ilmu dari guru. Janganlah kita menuntut sesuatu hal yang dapat menghambat ilmu itu kita terima. Pergunakanlah hati dan pikiran, jangan menggunakan nafsu atau tabiat buruk dalam berproses mencari ilmu.

Buatlah diri kita sebagai penerima ilmu yang baik, kalau memang kita merasa bersalah kepada sang guru, secepat kilatlah untuk meminta maaf. Ilmu yang bermanfaat manakala kita mendapat ridho dari sang guru, aku takut kalau ketika guru tidak ridho kepada kita karena kita berbuat kesalahan. Namun demi Allah sang guru akan selalu ridho ilmunya ditransfer kepada muridnya.

Bagi sang guru yang bijak, beliau akan lebih utama mentransfer ilmunya kepada satu murid tapi sungguh-sungguh, daripada banyak murid tapi tidak niat dan tak punya akhlak baik. Kita harus sadar dengan dalih dunia sudah tua, kapan lagi kita akan berbuat baik dan hormat kepada guru. Tanpa guru, kita buta wawasan, sadarilah guru merupakan penolong kita untuk hidup, tanpa guru kita akan mati gaya dalam hidup, renungilah selagi punya perasaan dan akal waras.

Semoga kita termasuk dalam golongan yang punya hati dan akhlak baik. Lembayung merona ketika senja mulai nampak, semegah kita hidup, namun tanpa ilmu dan akhlak maka kita ibarat domba dungu yang tidak mendengar maupun melihat, ketika pengembala menggiringnya ke kandang, karena senja sudah nampak dan malam pun akan tiba. Anak didik, yang tanpa ilmu dia ibarat domba dungu ketika tidak mempunyai ilmu, maka dia akan dungu terhadap perkembangan zaman. Sehingga seakan-akan ilmu itu sangat mahal sekali, memang dengan biaya kita akan mendapatkan ilmu penting. Pelajarilah ilmu agama (Islam) dan juga ilmu umum, maka kita tidak akan tersesat.

Konsep Pendidikan
Bapak pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara, merumuskan hakikat pendidikan sebagai usaha orang tua bagi anak-anak dengan maksud untuk menyokong kemajuan hidupnya, dalam arti memperbaiki tumbuhnya kekuatan rohani dan jasmani yang ada pada anak-anak (Darmaningtyas, 1999:4).

Kalau kita nalar, bahwasanya pendidikan itu untuk memenuhi kebutuhan rohani dan jasmani. Makanya ilmu agama (Islam) dan pengetahuan umum itu wajib untuk dikuasai oleh pencari ilmu. Mencari ilmu itu tidak habis-habisnya, menurut Ahmad Fauzi (1999:105) sekolah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama untuk kecerdasannya. Anak yang tidak pernah sekolah akan tertinggal dalam berbagai hal. Sekolah sangat berperan dalam meningkatkan pola pikir anak, karena di 100 sekolah mereka dapat belajar bermacam-macam ilmu pengetahuan. Tinggi rendahnya pendidikan dan jenis sekolahnya turut menentukan pola pikir serta kepriadian anak.

Kita dapat menganalisa antara anak yang bersekolah di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan Madrasah Aliyah (MA), mempunyai ciri khas tersediri. Hal itulah yang menjadi tolok ukur dunia pendidikan, selain itu juga berpengaruh dalam membentuk pola prilaku dan pola berpikir anak didik.

Rektor IKIP Sanata Dharma Yogyakarta, Dr. J. Sudarminta, memberikan definisi yang berbeda lagi. Menurut beliau, pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh pendidik melalui bimbingan, pengajaran dan latihan untuk membantu peserta didik mengalami proses pemanusiaan diri ke arah tercapainya pribadi yang dewasa-susila (J. Sudarminta, 1990:12).

Pendidik tidak hanya mengajar dalam hal teori pendidikan saja, melainkan pendidik menerapkan bimbingan dan kawalan penuh terhadap prilaku anak didiknya, agar merubah keburukan menjadi kebaikan. Selain itu, pendidik juga harus mampu memberikan motivasi, sebab motivasi sangatlah penting untuk kemajuan perkembangan pemikiran anak dan semangat belajarnya. Lembaga sekolah/Madrasah memang sangat berpengaruh mengenai pola pemikiran dan perkembangan anak didik. Fasilitas yang memadai dan juga para gurunya selalu memberikan arahan yang benar.

Berbagai kebijakan dan sikap dari lembaga sendiri merupakan dasar untuk perkembangan anak didik. Mengapa? Karena dengan adanya kebijakan dan juga sikap yang diambil lembaga akan membuat nyaman, tenang dan juga damai. Sehingga antara lembaga, pengajar dan juga murid akan merasa menikmati pentransferan keilmuan.

Mc. Donald mengatakan bahwa, motivation is a energy change within the person characterized by affective arousal and anticipatory goal reactions. Motivasi adalah suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif (perasaan) dan reaksi untuk mencapai tujuan (Baca juga; Syaiful Bahri Djamarah, 2000:148). Motivasi guru terhadap anak didiknya memang diharuskan, untuk menumbuhkan kesemangatan belajar dan juga berkarya positif.

Estetika Guru dan Murid
Tidak hanya murid saja yang diberi tanggungjawab menuntut ilmu, melainkan gurupun juga harus mempertanggungjawabkan apa yang diajarkan. Menurut K.H. Hasyim Asy'ari, bahwa guru (pengajar) juga harus punya etika, diantaranya: Senantiasa mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub ila Allah); senantiasa takut kepada Allah; senantiasa bersikap tenang; senantiasa berhati-hati (wara'); senantiasa tawaduq; senantiasa khusu', mengadukan segala persoalannya kepada Allah Swt; tidak menggunakan ilmunya untuk meraih keduniawian semata; tidak selalu memanjakan anak didik; berlaku zuhud dalam kehidupan dunia; menghindari berusaha dalam hal-hal yang rendah; menghindari tempat-tempat yang kotor dan tempat maksiat; mengamalkan sunnah Nabi; mengistiqomahkan membaca Al Qur'an; bersikap ramah, ceria dan suka menaburkan salam; membersihkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak disukai Allah; menumbuhkan semangat untuk menambah ilmu pengetahuan; tidak menyalah gunakan ilmu dengan cara menyombongkannya; dan membiasakan diri menulis, mengarang dan meringkas. (Ramayulis & Samsul Nizar, 2005:224-225).

Guru harus juga mengembangkan daya ilmunya agar tidak ketinggalan oleh perkembangan zaman. Lembaga juga wajib mendukung perkembangan dalam dunia mengajar, lingkungan lembaga juga mempengaruhi perkembangan karyawan, guru dan anak didik. Suasana lembaga mempengaruhi estetika pembelajaran, guru juga mempunyai rasa tanggungjawab tinggi kalau sudah menyadari dirinya seorang guru yang profesional dan digaji oleh negara.
Murid juga harus mempunyai etika terhadap gurunya, sehingga antara guru dan murid juga saling mempunyai etika. Dalam hal ini terdapat sepuluh etika yang ditawarkan oleh K.H. Hasyim Asy'ari, antara lain: membersihkan hati dari berbagai gangguan keimanan dan keduniawian; membersihkan niat; tidak menunda-nunda kesempatan belajar; bersabar dan qanaah terhadap segala macam pemberian dan cobaan; pandai mengatur waktu; menyederhanakan makan dan minum; bersikap hati-hati (wara'); menghindari makanan dan minuman yang menyebabkan kemalasan yang menyebabkan kemalasan dan kebodohan; menyedikitkan waktu tidur selagi tidak merusak kesehatan; dan meninggalkan hal-hal yang tidak berfaedah. (Ramayulis & Samsul Nizar, 2005:220-221).

Bagi guru dan murid semacam di atas kalau dilihat secara sekilas merupakan sesuatu hal yang sangat mudah, akan tetapi ketika menjalaninya akan terasa berat. Namun itu merupakan keharusan bagi guru dan murid dalam menambah wawasan dunia keilmuan. Ilmu laksanakan cahaya suci, kalau kita masih berbuat maksiat dan berpola tingkah negatif, takutnya adalah ilmu itu tidak bisa kita terima, dan tidak bermanfaat bagi kita. Hanya kepada Allah kita berlindung dari segala gangguan setan dan marabahaya yang tidak kita inginkan.